|
T
|
iga hal
penting dalam pemeliharaan ayam adalah manajemen, bibit dan pakan, dan
unsur yang paling penting adalah pakan. Pakan menempati porsi terbesar
yaitu sekitar 70% dari seluruh biaya produksi. Sementara itu harga pakan
relatif mahal, karena masih bersaing dengan kebutuhan manusia, sehingga
perlu upaya mencari bahan pakan alternatif yang penggunaannya tidak
bersaing dengan kebutuhan pangan manusia tetapi mengandung nutrisi yang
diperlukan ternak.
Namun para peternak tidak
sedikit mengalami hambatan dan rintangan selain harga pakan yang terus
naik, obat-obatan yang cukup mahal juga adanya berbagai macam penyakit
yang sering menyerang ternak. Salah satu penyakit pada ayam yang sering
ditemui adalah ASKARIDIASIS.
Infeksi Ascaridia dapat disebabkan oleh Ascaridia galli, Ascaridia dissmilis, Ascaridia numidae, Ascaridia columbae, Ascaridia compar, dan Ascaridia bonase. Selain berparasit pada ayam, Ascaridia galli
juga ditemukan pada itik, kalkun, burung dara, dan angsa. Cacing ini
tinggal didalam usus halus, berwarna putih, bulat, tidak bersegmen dan
panjangnya sekitar 6-13 cm.
Ascaridia galli
merupakan suatu parasit cacing yang paling sering ditemukan pada unggas
peliharaan dan menimbulkan kerugian ekonomik yang cukup tinggi. Cacing
tersebut biasanya menimbulkan kerusakan yang parah selam bermigrasi pada
fase jaringan dari stadium perkembangan larva. Migrasi terjadi di dalam
lapisan mukosa usus dan menyebabkan pendarahan (enteritis hemoragi).
Jika lesi tersebut bersifat parah, maka kinerja ayam akan menurun
secara dramatis. Ayam yang terinfeksi akan mengalami gangguan proses
digesti dan penyerapan nutrien sehingga dapat menghambat pertumbuhan.
Cacing
Ascaridia bersifat spesifik untuk suatu spesies tertentu dan tidak
ada/hanya sedikit kemungkinan terjadi infeksi silang antara jenis
unggas yang satu dengan yang lainnya. Ascaridia galli berparasit pada ayam, kalkun, burung dara, itik, dan angsa.
Siklus hidup Ascaridia galli tidak
butuh hospes perantara. Penularan cacing tersebut biasanya melalui
pakan, air minum, litter, atau bahan lain yang tercemar oleh feses yang
mengandung telur infektif. Ayam muda lebih sensitif terhadap kerusakan
yang ditimbulkan oleh Ascaridia galii. Pada umur 2 – 3 bulan, ayam akan membentuk kekebalan berperantara seluler terhadap cacing tersebut. Sejumlah kecil cacing Ascaridia galli
yang berparasit pada ayam dewasa biasanya dapat ditolerir oleh tanpa
adanya kerusakan tertentu pada usus. Infestasi 10 ekor cacing pada ayam
dewasa dianggap tidak berbahaya, namun lebih dari 75 ekor akan
menimbulkan masalah tertentu.
Infeksi Ascaridia galli
dapat menimbulkan penurunan berat badan yang berhubungan langsung
dengan jumlah cacing yang terdapat didalam tubuh. Status nutrisi dari
hospes juga penting karena penurunan berat badan lebih tinggi dari pada
ayam yang diberi pakan dengan kadar protein tinggi dari pada ayam yang
dibri pakan dengan protein lebih rendah. Pada infeksi berat dapat
terjadi penyumbatan pada usus. Ayam yang terinfeksi Ascaridia galli
dalam jumlah besar akan kehilangan darah, mengalami penurunan kadar
gula darah, peningkatan asam urat, atrofi timus, gangguan pertumbuhan,
dan peningkatan mortilitas.
GEJALA SERANGAN ASCARIDIA GALLI
Gejala umum yang diperlihatkan ayam (unggas) yang terjangkit Ascaridia galli
ini adalah kekurangan darah, mencret dan penurunan produksi telur.
Berbagai macam obat cacing telah digunakan untuk menanggulangi Ascaridia galli, baik yang modern maupun tradisional. Alkaloid carpaina (carposide)
yang terdapat pada daun pepaya dapat dipakai sebagai obat cacing yang
efektif dan merupakan antelmintik tradisional, karena efektivitasnya
hampir setara dengan obat modern pirantel pamoat yaitu mampu membunuh
cacing-cacing saluran pencernaan (www.IPTEKnet.co.id./Pepaya1.htm, 2002;
Soegito, 1997).
Umur
ayam dan derajat keparahan infeksi memegang peranan penting dalam
kekebalan terhadap cacing tersebut. Ayam yang berumur 3 bulan atau lebih
menunjukan adanya resistensi terhadap infeksi Ascaridia galli.
Status nutrisi ayam juga mempengaruhi pembentukan kekebalan terhadap
cacing tersebut. Menurut penelitian ayam yang diberikan pakan dengan
kadar vitamin A, B kompleks, kalsium, dan lisin yang tinggi akan
meningkatakan resistensi terhadap Ascaridia galli.
Mengingat bahwa lalat dapat bertindak sebagai vector mekanik dari telur Ascaridia galli,
maka pengendalian terbaik terhadap cacing tersebut adalah kombinasi
antara pengobatan preventif dan manajemen kandang yang optimal, meliputi
sanitasi/ disinfeksi ketat dan pembasmian lalat. Pencegahan dan
pengobatan pada pullet biasanya diberikan sekitar umur 5 minggu,
kemudian diulang dengan interval 4 minggu sampai ayam mencapai umur 21
minggu.
Perubahan populasi Ascaridia galli
pada ayam sebagai akibat infeksi ulang menunjukkan terjadinya : 1)
penurunan populasi cacing, 2) peningkatan jumlah lekosit terutama
limfosit, dan 3) penurunan kadar hemoglobin. Menurunnya populasi cacing Ascaridia galli hasil infeksi ulang serta meningkatnya jumlah lekosit terutama limfosit diduga berhubungan dengan timbulnya imunitas.

KHASIAT DAUN PEPAYA UNTUK AYAM
Daun pepaya (Carica papaya)
merupakan limbah pertanian dari produk utama buah pepaya yang belum
dimanfaatkan secara maksimal sebagai bahan pakan ternak. Menurut Labaso
(1987) tepung hijauan dapat digunakan sebagai salah satu bahan penyusun
ransum ayam. Hal ini sesuai pula dengan pendapat Suhermiyati et al.
(1988) bahwa daun pepaya pada dasarnya dapat dimanfaatkan sebagai pakan
ternak karena kandungan nutrisinya relatif tinggi yaitu protein kasar
27,40%; serat kasar 9,8%; lemak kasar 10,0%; abu 9,98%; air 8,6% dan
BETN 35,22%. Daun pepaya juga mengandung papain yang merupakan salah
satu enzim proteolitik yaitu sejenis enzim yang membantu dalam proses
pemecahan protein. Hasil analisis lain yang dilakukan oleh Sulistiawati
dan Sarjuni (2002) pada daun pepaya yang tidak dikonsumsi manusia yaitu
pelepah ke 30 dari pucuk ke bawah, mempunyai kandungan protein kasar
18,7% dan serat kasar 17,25%. Salah satu kekurangan daun pepaya adalah
mengandung alkaloid carpain yang menimbulkan rasa pahit, namun zat ini
diduga berkhasiat sebagai obat cacing atau antelmintik (Soegito, 1997).
Daun pepaya juga mengandung alkaloid carpaina disebut carposide yang berkhasiat sebagai antelmintik karena efektivitasnya hampir setara dengan obat modern pirantel pamoat yaitu mampu membunuh cacing-cacing saluran pencernaan (www.IPTEKnet.co.id./Pepaya1.htm,
2002; Soegito, 1997). Cacing-cacing saluran pencernaan tersebut akan
terbunuh oleh carposide, maka jumlah telurnyapun akan berkurang, dan
kondisi kesehatan ayam tidak terganggu, sehingga konsumsi ransumnya akan
lebih baik serta penyerapan zat-zat makanan akan lebih optimal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar